Berita Terbaru :
Kebun Emas 250 x 250
Tampilkan postingan dengan label lapas cebongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lapas cebongan. Tampilkan semua postingan

Ada "Timekeeper" Saat Penyerangan di Lapas Sleman

KOMPAS.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melakukan investigasi langsung atas penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, Yogyakarta.
Koordinator KontraS Hariz Azhar mengatakan, berdasarkan keterangan saksi, ada seorang pelaku yang diduga menjadi timekeeper atau pengatur waktu dalam melakukan aksi tersebut.

"Penyerangan dilakukan secara keseluruhan hanya dalam 15 menit dan ada salah satunya yang bertugas sebagai timekeeper. Ada saksi mengatakan, satu orang penyerang melihat jam tangan terus," ujar Haris di kantor Imparsial, Jakarta Pusat, Minggu (24/33/2013).

Penyerangan pun diduga kuat telah direncanakan dengan matang. Pelaku yang diperkirakan sebanyak 17 orang telah diberi pembagian tugas. Estimasi waktu dari awal hingga akhir penyerangan pun telah diperhitungkan. "Jadi ada kontrol waktu dalam penyerangan itu," lanjut Haris.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (233/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo's Cafe, 19 Maret 2013 lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian.
Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama. (kompas.com)

Kontras: Eksekutor di Lapas Sleman Hanya 1 Orang

KOMPAS.com - Penembak empat tersangka pengeroyok anggota Kopassus yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, diketahui hanya satu orang. Seorang pelaku tersebut menembak hingga menewaskan empat tersangka dengan cepat dan tepat sasaran.

Hal itu berdasarkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), yang mendatangi lokasi kejadian. "Jadi pelaku eksekusi hanya satu orang. Dia menembak di depan 31 tahanan sel 5a," terang Koordinator Kontras Haris Azhar di kantor Imparsial, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2013).

Haris mengatakan, berdasarkan keterangan saksi, sempat terjadi kepanikan dan kegaduhan dalam sel tahanan tersebut. Sebanyak empat orang tersangka kemudian terpisah dari tahanan lainnya dan ditembak hingga tewas.

Pelaku penyerangan lainnya, lanjut Haris telah bertugas untuk berjaga di sekitar lokasi, menjadi timekeeper, hingga mengamankan CCTV. Penyerangan ini pun telah dipersiapkan dengan matang dengan waktu keseluuruhan selama 15 menit.

Sementara Direktur Program Imparsial Al- Araf meyakini aksi penyerangan tersebut teroganisir. Hal itu terlihat dari cara penyerangan yang dilakukan secara sistematis, cepat, dan taktis, serta penggunaan persenjataan yang memadai, yaitu AK 47, senjata api jenis FN, dan granat.

"Penyerangan ini tentunya dilakukan secara terorganisir, terencana, terlatih, dan memiliki kapasitas penggunaan senjata secara profresional," terangnya.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (233/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda.

Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo's Cafe, 19 Maret 2013 lalu. Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit. (kompas.com)

Penembakan di Lapas Sleman Jangan Dikaitkan dengan Isu SARA

KOMPAS.com -  Keluarga besar Yohanes Juan Manbait meminta kasus penembakan di Lembaga Pemasyarakataan (Lapas), Cebongan, Sleman, tidak dikaitkan dengan isu suku, agama, dan ras (SARA).  Yohanes Juan Manbait, merupaka salah satu dari empat orang yang tewas dalam peristiwa penembakan di di sel 5A blok Anggrek Lapas, Cebongan, Sleman, Sabtu (23/3/2013) dinihari.

"Kepolisian RI harus melakukan penegakan hukum yang jujur dan trasparan terhadap siapa saja dan lembaga institusi apa saja yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini dan jangan sesekali kemudian isu ini dibelokan ke isu sara," kata kakak kandung Juan, Viktor Manbait, kepada Kompas.com, Minggu (24/3/2013).

Viktor yang juga adalah Direktur Lembaga Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) Cendana Wangi NTT mengatakan, Indonesia adalah negara hukum, kepolisian merupakan wujud representasi negara yang diberikan mandat dan kewajiban untuk penegakan hukum dan perlindungan hukum bagi semua warga negara.

"Sangat disayangkan ketika anak bangsa warga negara Republik Indonesia, berada dalam lindungan penuh kepolisian negara dalam penegakan hukum, justru negara dan hukum diinjak-injak dan dilecehkan. Kami keluarga meminta agar jenazah adik kami segera dibawa ke Kupang, agar dapat dimakamkan secara terhormat," kata Viktor.

Yohanes Juan Manbait,  Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu, Hendrik Angel Sahetapi, dan Adrianus Candra Galaga, ditembak sekelompok pria bersenjata, saat berada dalam selnya di Lapas Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu dini hari. Keempat orang tersebut merupakan tersangka kasus penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya Serty Santoso, anggota Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura.

Gusti Prabu Jamin DIY Tetap Aman

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kerabat Keraton Yogyakarta, GBPH Prabukusumo, menjamin bahwa kondisi DIY akan tetap aman. Menyusul insiden penyerangan bersenjata di Lapas Cebongan Sleman yang berimbas pada kekhawatiran warga dan mahasiswa NTT yang ada di Yogyakarta.

Terlebih dengan beredarnya informasi melalui BBM maupun SMS menyesatkan yang menyebutkan adanya sweeping terhadap warga tertentu. Dipastikan Gusti Prabu bahwa informasi-informasi tersebut tidak benar.

"Saya langsung konfirmasikan info-info itu kepada Bapak Letkol Inf Richard Tampubolon (Asintel Danjen Kopassus). Dengan tegas dipastikan beliau bahwa itu berita tidak benar dan menyesatkan," lugas adik Sri Sultan HB X ini, Minggu (24/3/2013).

Gusti Prabu juga berpesan kepada warga maupun mahasiswa asal Indonesia timur, terutama NTT, yang ada di Yogyakarta untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Jangan pernah merasa khawatir maupun takut dengan berbagai isu yang dihembuskan pihak-pihak tak bertanggungjawab.

"Saya menggaransi keamanan mereka. Tetaplah beraktivitas seperti biasa," tukasnya.

Insiden penyerangan bersenjata di Lapas Cebongan Sleman tersebut menurutnya juga mencoreng citra keamanan DIY. Sebab itu, ia meminta kepada pihak terkait untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Termasuk memerketat dan mengawasi pelaksanaan peraturan demi terciptanya kondusivitas masyarakat.

Gusti Prabu juga berpesan agar masyarakat DIY jangan terpancing dengan isu-isu menyesatkan, yang hanya bertujuan menggoyang stabilitas. "Saya dan Bapak (Letkol Inf) Richard menjamin kenyamanan dan keamanan masyarakat. Tentu saja dilindungi Kapolda maupun Danrem DIY," imbuhnya. (*)

Pemerintah Yogyakarta jamin keselamatan warga NTT

Sleman (Antara Jogja) - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan jaminan keamanan, kenyaman, dan keselamatan kepada warga Nusa tenggara Timur yang tinggal di wilayah setempat, kata Perwakilan Pemerintah NTT untuk Jakarta Bertolalo.

"Forum komunikasi pemerintah NTT telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Forum Komunikasi pemerintah DIY. Dan Pemerintah DIY memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan warga NTT di DIY," kata Bertolalo usai serah terima jenazah dari Polda DIY kepada pemerintah NTT di RSUP Sardjito, Minggu.

Selain itu, pihaknya mewakili pemerintah NTT mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan masyarakat setempat yang telah memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan serta menerima masyarakat NTT.

"Mereka sudah hidup sekian lama di Yogyakarta, karena jasa baik dari pemerintah DIY. Kalau ada hal yang kurang berkenan dari masyarakat NTT yang tinggal di Yogyakarta, kami tetap memohon bantuan pemerintah untuk selalu bersama melakukan bimbingan, arahan sebagaimana warga DIY lainnya sehingga bersama-sama membangun DIY dalam suasana aman dan kondusif," katanya.

Ia mengimbau masyarakat NTT yang ada di DIY tetap menjaga kebersamaan dengan warga bangsa yang ada di Yogyakarta. Sedapat mungkin menghindari aktivitas yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, komunitas dan masyarakat umum.

"Kami juga meminta warga NTT di Yogyakarta untuk selalu kerja sama, menjaga keharmonisan, dan saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," katanya.

Pemulangan jenazah korban insiden Lapas Cebongan yakni Angel Sahetapi alias Deki (31), Adrianus Candra Galaga alias Dedi (33), Gameliel Yermiayanto Rohi alias Adi (29) dan Yohanes Yuan (38) direncanakan pada Senin 25 Maret sekitar 06.40 WIB dan 09.00 WIB dengan menggunakan pesawat Lion Air.

Empat korban itu diduga terlibat dalam pembunuhan anggota TNI AD dari Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura Sersan Satu Santoso (31) di Hugos Cafe belum lama ini.

"Untuk menghormati jenazah, komunitas NTT akan menggelar misa di RSUP Sardjito hingga jenazah dipulangkan besok pagi," katanya. (antarayogya.com)
 
jos