Berita Terbaru :
Kebun Emas 250 x 250

10 Wisata Kuliner di Jogja yang Unik dan Tersohor

Berita Terkini dari Yogyakarta - Kuliner
Wisata di Yogyakarta tentunya tak lepas dari wisata kuliner khas Jogja. Mungkin anda bingung mencari menu masakan yangkhas dari Kota Gudeg ini. Biasanya, tamu kami bertanya: " Kalo makanan yang khas di Jogja apa saja mas ".

Untuk menghadapi itu, detak dJogja memberikan referensi kepada anda semua dengan memberikan 10 wisata kuliner di Jogja yang wajib anda kunjungi. Tempat - tempat kuliner ini sangat beragam, mulai dari makanan berat, ringan hingga tempat kuliner yang menjadi favorit Raja Keraton Ngayogyokarto. Kami pilihkan dengan konsep yang unik dan menarik

Berikut kat ini daftar wisata kuliner yang wajib anda kunjungi selama berada di Yogya:

1. Bakmi Jawa
Bakmi Jawa di Yogyakarta jelas sangat berbeda dan memiliki khas tersendiri, Selain rasanya yang gurih, . Bakmi Jawa biasanya di masak dengan menggunakan Anglo ( tungku dari tanah liat dengan bahan baku arang ).

Bakmi Jawa yang terkenal di Yogyakarta adalah :
a. Bakmi Jawa Mbah Mo ( Dusun Code Manding Bantul ). Letaknya sangat terpencil di dusun
code, namun menjadi incaran para pejabat dan artis ketika berkunjung ke Yogyakarta.
b. Bakmi Jawa Kadin. Bakmi Jawa yang sudah terkenal sejak dahulu kala, letaknya dekat dengan Pakualaman, persis di samping Supermarket Superindo.
c. Bakmi Jawa Pak Pele, langganan para seniman Jogja. Letaknya di sebelah selatan Alun - Alun Utara, atau dekat dengan Pagar Keraton.

2. Gudeg
Anda sudah tahu gudeg?? jika belum silahkan baca artikel ini terlebih dahulu. Banyak sekali penjual gudeg di jogja, mungkin anda bingung gudeg mana yang terkenal dan unik. Disini kami akan menampilkan keunikan gudeg di Jogja.

Gudeg Yu Djum, merupakan legendaris gudeg di Jogja. Jika anda ingin menikmati kenyamanan, sebaiknya anda makan di rumah Yu Djum di daerah Mbarek Jl Kaliurang Selokan Mataram, deket MM UGM Yogya. Semua masyarakat di Indonesia dan Mancanegar pasti tahu Gudeg Yu Djum, jadi ini harus anda kunjungi sebagai referensi wisata kuliner di Jogja.

Selain Gudeg Yu Djum, anda juga harus menikmati Gudeg Pawon. Gudeg Khas Jogja yang memiliki Sensasi dalam menikmati makanan gudeg di dapur ( pawon - bahasa jawa ). Bukanya Hanya jam 11 malam, hingga jam 2 pagi saja. Letaknya di Jl. Janturan deket ( Selatan Pamella Swalayan Jl. Kusumanegara ).

Bosen atau anda sudah pernah mengunjungi kedua tempat diatas?? Kami referensikan Gudeg Permata ( Jl. Sultan Agung ) depan Bioskop Permata deket Pakualaman ( tempat tinggal Paku Alam ), selain itu Gudeg

3. Soto Khas Jogja
Makanan Soto tentunya anda sudah tahu semua. Naahh.. soto yang khas dan terkenal di Yogyakarta adalah Soto Kadipiro, yang terletak di Jl. Wates dekat perempatan Wirobrajan.

Di jalan ini anda akan menemui banyak Warung Makan Soto Kadipiro, namun yang asli adalah Soto Kadipiro yang berada di utara jalan ( satu deret dengan pom bensin ). Soto Ayam yang tidak bersantan ini berdiri sejak tahun 1921, dibangun oleh Pak Karto Wijoyo.

Selain Soto Kadipiro, Soto yang terkenal di Yogyakarta adalah Soto Pak Sholeh yang terletak di Jl Wiratama Tegal Rejo Yogyakarta. Tepatnya Jalan masuk Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro. Penampilan soto yang bening dan seger terlihat nikmat untuk dinikmati siang hari. Harganya pun sangat terjangkau, yaitu Rp 8.000 untuk 1 porsinya.

4. Mangut Lele Mbah Marto
Wisata Kuliner khas Jogja yang jarang didengar adalah Mangut lele ini. Mangut Lele, sesuai namanya menawarkan masakan olahan dari ikan lele. Tidak seperti masakan lele biasa, lele sebelum dimasak bersama kuah santan gurih dan pedas seperti kuah gulai, lele terlebih dahulu dibakar diatas tungku, sehingga dagingnya matang saat pembakaran.

Mangut Lele yang terkenal sejak dahulu adalah Mangut Lele Mbah Marto, letaknya di Dusun Geneng Sewon Bantul, atau tepat di belakang Institut Seni Indonesia ( ISI ) Yogyakarta. Walaupun namanya Warung Sego Gudeg Geneng Mbah Marto, namun yang terkenal adalah masakan Mangut Lelenya. Banyak kalangan artis dan pejabat dari luar kota yang menjadi langganan Mbah Marto.

Menu Warung Sego Gudeg Geneng Mbah Marto selain Mangut Lele, antara lain: Ceker, Gudeg Setengah Kering, Sambal Krecek, Sate Keong, Garang Asem, dll. Harga satu porsi mangut lele sebesar Rp 8.000 atau 10.000 dengan menu kompli ( Nasi, Mangut Lele, Gudeg dan Sayur Daun Pepaya ).

5. Pecel Baywatch

6. Resto Bale Raos
Bale Raos merupakan restoran para bangsawan keraton jaman dahulu. Disini anda dapat menemukan masakan kesukaan dari raja - raja keraton Ngayogyokarto. Mulai dari Hamengkubuwono XIII hingga sekarang, restoran ini memiliki menu favorit dari setiap

7. Oseng - Oseng Mercon
Nahh.. makanan ini menjadi incaran bagi pencinta makanan pedas. Saking pedasnya, anda serasa makan mercon di dalam mulut. Oseng - oseng Mercon yang terkenal di Yogyakarta adalah Oseng - Oseng Mercon Bu Hadi. Bertepat di Jl. Nyi Ahmad Dahlan Yogyakarta, sebelah Barat RS PKU Muhammadiyah atau 300m dari perempatan Kantor Pos Besar. Menu di Warung Makan ini adalah Oseng - Oseng Mercon, Ayam Bakar/Goreng, dll.

8. Sego Pecel ( SGPC ) Bu Wir
Mau sarapan pagi selain gudeg?? SGPC jawabanya. Sego Pecel ( disingkat SGPC ) menjadi laternatif yang dapat anda nikamti saat berada di Jogja. Sego Pecel yang terkenal dari Madiun, kini dapat nikmati di Warung SGPC Bu Wir atau Bulaksumur. Lokasinya tepat di sebrang Fakultas Peternakan UGM atau Selokan Mataram.

Sego Pecel ini berisi sayur - sayuran dengan diberi bumbu kacang yang manis dan pedes. Dengan Menu lauk yang tersedia: tahu tempe, telur ceplok (mata sapi), sate telur, bakwan dll. SGPC Bu Wir memiliki suasana Tempoe Doeloe, sambil mendengarkan grup musik yang menyanyikan tembang nostalgia anda dapat merasakan sensasi wisata kuliner di Jogja.

9. Sate Klatak
Sate Klatak merupakan sate ayam yang diracik secara khusus, sehingga memiliki keunikan tersendiri. Sate kalatak ini terdapat di Pasar Jejeran Bantul atau sekitar 1 KM ke selatan dari Terminal Giwangan.

Kelembutan daging ayam dan racikan bumbu sate yang khas, membuat anda dapat menikmati sate khas bantul ini. Ditambah porsi 1 tusuk sate, sangatlah besar. Sehingga dengan 3 - 5 tusuk sate yang disajikan, dapat membuat perut anda penuh.

10. Brongkos
Sayur brongkos menjadi salah satu warisan masakan leluhur yang masih terjaga dan menjadi salah satu jenis kuliner yang sangat familier. Namun, bagaimana rasanya menikmati brongkos yang konon menjadi menu favorit raja keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Makanan yang terbuat dari tahu dan kacang tolo dengan perpaduan kuah santan kental dan kaldu daging segar.

Brongkos yang terkenal di Jogja salah satunya adalah: Brongkos Bu Padmi yang terletak di bawah Jembatan Krasak Tempel Sleman. Bahkan Pak Bondan pernah berkunjung ke Warung Makan Bu Padmi ini untuk menikmati sensasi Brongkosnya.

Selain Bu Padmi, sayur Brongkos yang terkenal ada di dekat Alun - Alun Selatan. Ciri khas brongkos buatan RM Handayani ini, tidak memakai kulit melinjo seperti brongkos pada umumnya dikarenakan banyak pembeli yang takut terkena asam urat. Selain itu, tidak memakai suwiran daging sapi hanya diambil kaldunya saja sebagai campuran kuah dengan santan. Telur yang digunakan sebagai pelengkap brongkos adalah telur bebek

Kulonprogo Akan Punya Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Ilustrasi - PLTA - Internet
KULONPROGO - Selain memiliki potensi tambang pasir besi, wilayah pesisir selatan Kulonprogo juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga angin. Wilayahnya yang langsung menghadap ke laut selatan dinilai memadahi untuk dijadikan sebagai lokasi pendirian pembangkit listrik tenaga kincir angin. Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo, Budi Wibowo mengatakan saat ini sudah ada pihak pemrakarsa yang sudah mengajukan izin untuk melakukan penyusunan feasibility study (FS) yakni Bina Tehnik Jakarta dan UPC dari Amerika Serikat. Keduanya sudah mengajukan izin kepada pemkab untuk melakukan penelitian kelayakan pendirian pembangkit listrik tenaga angin. “Ada pihak yang berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga angin di wilayah selatan. Saat ini mereka sedang akan melakukan penyusunan FS yang rencananya akan dilaksanakan selama tiga bulan,” katanya saat ditemui di kantornya, Rabu (24/10/2012).

Budi menjelaskan, pemkab sendiri pada dasarnya mempersilakan pihak-pihak yang akan melakukan FS, asalkan tidak melanggar kontrak karya penambangan pasir besi, tidak mengganggu rencana pembangunan bandara serta keberadaan radar TNI Angkatan Udara. Untuk itu, pemkab mengarahkan Bina Tehnik dan UPC untuk melakukan penelitian kelayakan di wilayah timur Sungai Progo.

“Kalau di wilayah kontrak karya tidak boleh. Kami mengarahkannya ke daerah di timur Sungai Progo, di sana ada lahan seluas lebih kurang 300 hektare yang bisa dijadikan sebagai lokasi pendirian kincir angin,” jelasnya.

Rencana pendirian pembangkit listrik tenaga kincir angin ini, menurut Budi merupakan pengembangan dari proyek yang ada di wilayah Bantul. Jika proyek ini terealisasi, tenaga listrik yang dihasilkan rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat umum dan industri yang ada di Kulonprogo. Namun pengelolaan aliran listriknya tetap dilaksanakan oleh pihak PLN.

Budi menuturkan, supaya rencana ini tidak berbenturan dengan proyek-proyek yang ada di Kulonprogo, pemerintah daerah mensosialisasikan rencana penyusunan FS pembangkit listrik tenaga kincir angin ini kepada PT JMI, Sat Radar Congot, PLN.

“Rencana ini sudah disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait. Yang pasti, lokasinya tidak boleh di dalam wilayah kontrak karya atau di dekat lokasi rencana pembangunan bandara karena ketinggian towernya bisa mengganggu,” ucapnya.

Dari pemaparan yang disampaikan pihak Bina Tehnik, kata Budi, pembangkit listrik tenaga kincir angin akan mampu menghasilan listrik sebesar 50 megawatt setiap turbinnya. Dengan demikian, nantinya aliran listrik dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat ataupun indsutri yang ada di Kulonprogo. (jogja.tribunnews.com)

Hutan Wanagama Gunungkidul

Gunung Kidul - Dalam perjalanan ke kota Wonosari, kita akan melintas desa Gading yang terletak lebih kurang 35 kilometer dari kota Yogyakarta. Dari desa Gading ini, kita akan tiba di Hutan Pendidikan Wanagama I, yang berjarak 1 kilometer dari Gading, terletak di tepi sungai Oya, sehingga tempat ini merupakan perpaduan pemandangan alam yang sangat indah.

Hutan Pendidikan Wanagama I, adalah hutan buatan yang dibangun untuk kepentingan pendidikan, disamping sebagai pola percontohan untuk mengembangkan hutan serbaguna, khususnya dalam mengatasi kekritisan dan penghijauan.


Hutan Pendidikan Wanagama I memiliki luas 80 ha, dikelola oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Para remaja dan mereka yang berminat mendalami masalah - masalah kehutanan akan memperoleh manfaat yang besar bilamana berwidyawisata (study-tour) ke Hutan Pendidikan ini. Di lokasi ini tersedia pula areal untuk berkemah dengan kapasitas 200 orang.

Untuk mencapai lokasi ini, dapat dipergunakan kendaraan umum dari terminal bus Yogyakarta, mengambil jurusan Wonosari, turun di desa Gading. Perjalanan dari Gading ke obyek yang dituju, dilakukan dengan berjalan kaki (kecuali bilamana membawa kendaraan sendiri) karena kendaraan umum yang menuju ke lokasi Hutan Pendidikan Wanagama I ini belum ada.

Legenda RORO JONGGRANG

Legenda Roro Jonggrang tidak lepas dari sebuah candi didaerah perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah sebelah timur yaitu candi Prambanan.
Alkisah pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.

Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang. “Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”, Tanya Bandung Bandawasa. “Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi. Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok. Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Joanggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso.

“Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

Asal Mula Gunung Merapi

Gunung Merapi terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan di beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah seperti Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten. Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu daerah yang kini ditempati oleh Gunung Merapi masih berupa tanah datar. Oleh karena suatu keadaan yang sangat mendesak, para dewa di Kahyangan bersepakat untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang ada di Laut Selatan ke daerah tersebut. Namun setelah dipindahkan, Gunung Jamurdipa yang semula hanya berupa gunung biasa (tidak aktif) berubah menjadi gunung berapi. Apa yang menyebabkan Gunung Jamurdipa berubah menjadi gunung berapi setelah dipindahkan ke daerah tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Gunung Merapi berikut ini!

* * *

Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah Empu Rama dan Empu Pamadi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.

Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.

“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua,” sapa Dewa Penyarikan.

Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.

“Ada apa gerangan, Pukulun?[1] Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.

“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,” jawab Batara Narada.

“Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”

Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.

“Maafkan hamba, Pukulun! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu Pukulun ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah tempat,” jelas Empu Rama.

“Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring,” kata Dewa Penyarikan.

“Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua,” bujuk Empu Narada.

Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.

“Maaf, Pukulun! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu,” kata Empu Pamadi.

Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.

“Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini,” ujar Batara Narada.

Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu.

Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.

“Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna,” lapor Batara Narada.

Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.

“Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Batara Guru.

“Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!” seru Batara Guru.

Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika. Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Gunung Merapi dari Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Hingga saat ini, kawah Gunung Merapi tersebut masih aktif dan sering mengeluarkan lahar disertai dengan hembusan awan panas. Sejak tahun 1548, gunung berapi ini sudah meletus sebanyak kurang lebih 68 kali. Hingga cerita ini ditulis (27/10/2010), Gunung Merapi kembali meletus dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi, ratusan rumah hancur, serta puluhan orang meninggal dunia, termasuk Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat akan mendapatkan celaka seperti halnya Empu Rama dan Empu Pamadi. Oleh karena enggan mendengar nasehat para dewa, akibatnya mereka tewas tertindih Gunung Jamurdipa. (Samsuni/sas/209/10-10)

[1] Pukulun berarti tuan, yaitu panggilan untuk dewa.

Sumber : ceritarakyatnusantara.com

Wisata Alam PUNCAK SUROLOYO

Puncak Suroloyo yang menjadi tempat pertapaan Sultan Agung dan kiblat pancering bumi di tanah Jawa memberi anda kesempatan melihat empat gunung besar di Pulau Jawa, Candi Borobudur dan pemandangan matahari terbit.

Puncak Suroloyo, Meneropong Borobudur dari Pertapaan Sultan Agung

Matahari muncul dalam warna kemerahan kurang lebih pada pukul 5.00 WIB, menyembul di antara ranting pohon yang berwarna hijau. Sinarnya membuat langit terbagi dalam tiga warna utama, biru, jingga dan kuning. Serentak saat warna langit mulai terbagi, sekelompok burung berwarna hitam mulai meramaikan angkasa dan membuat suara serangga tanah yang semula kencang perlahan melirih.

Empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut.

Itulah pemandangan yang bisa dilihat saat fajar ketika berdiri di Puncak Suroloyo, buykit tertinggi di Pegunungan Menoreh yang berada pada 1.091 meter di atas permukaan laut. Untuk menikmatinya, anda harus melewati jalan berkelok tajam serta menakhlukkan tanjakan yang cukup curam, dan memulai perjalanan setidaknya pada pukul 2 dini hari. Dua jalur bisa dipilih, pertama rute Jalan Godean - Sentolo - Kalibawang dan kedua rute Jalan Magelang - Pasar Muntilan - Kalibawang. Rute pertama lebih baik dipilih karena akan membawa anda lebih cepat sampai. Tentu anda mesti berada dalam kondisi fisik prima, demikian juga kendaraan yang mesti berisi bahan bakar penuh serta bila perlu membawa ban cadangan.

Setelah berjalan kurang lebih 40 km, anda akan menemui papan penunjuk ke arah Sendang Sono. Anda bisa berbelok ke kiri untuk menuju Puncak Suroloyo, namun disarankan anda berjalan terus dahulu sejauh 500 meter hingga menemui pertigaan kecil dan berbelok ke kiri karena jalannya lebih halus. Dari situ, anda masih harus menanjak lagi sejauh 15 km untuk menuju Puncak Suroloyo. Sebuah perjalanan yang melelahkan memang, namun terbayar dengan keindahan pemandangan yang dapat dilihat.

Pertanda anda telah sampai di bukit Suroloyo adalah terlihatnya tiga buah gardu pandang yang juga dikenal dengan istilah pertapaan, yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Suroloyo adalah pertapaan yang pertama kali dijumpai, bisa dijangkau dengan berjalan kaki menaiki 286 anak tangga dengan kemiringan 300 - 600. Dari puncak, anda bisa melihat Candi Borobudur dengan lebih jelas, Gunung Merapi dan Merbabu, serta pemandangan kota Magelang bila kabut tak menutupi.

Pertapaan Suroloyo merupakan yang paling legendaris. Menurut cerita, di pertapaan inilah Raden Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang padanya. Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yosodipuro yang ditulis pada abad 18, Sultan Agung mendapat dua wangsit, pertama bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa sehingga mendorongnya berjalan ke arah barat Kotagede hingga sampai di Pegunungan Menoreh, keduia bahwa ia harus melakuykan tapa kesatrian agar bisa menjadi penguasa.

Menuju pertapaan lain, anda akan melihat pemandangan yang berbeda pula. Di puncak Sariloyo yang terletak 200 meter barat pertapaan Suroloyo, anda akan melihat Gunung Sumbing dan Sindoro dengan lebih jelas. Sebelum mencapai pertapaan itu, anda bisa melihat tugu pembatas propinsi DIY dengan Jawa Tengah yang berdiri di tanah datar Tegal Kepanasan. Dari pertapaan Sariloyo, bila berjalan 250 meter dan naik ke pertapaan Kaendran, anda akan dapat melihat pemandangan kota Kulon Progo dan keindahan panati Glagah.

Usai melihat pemandangan di ketiga pertapaan, anda bisa berkeliling wilayah Puncak Suroloyo dan melihat aktivitas penduduk di pagi hari. Biasanya, mulai sekitar pukul 5 pagi penduduk sudah berangkat ke sawah sambil menghisap rokok linting. Bila anda berjalan di dekat para penduduk itu, aroma sedap kemenyan akan menyapa indra penciuman sebab kebanyakan pria yang merokok mencampur tembakau linting dengan kemenyan untuk menyedapkan aroma.

Selain memiliki pemandangan yang mengagumkan, Puncak Suroloyo juga menyimpan mitos. Puncak ini diyakini sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Dengan mitos, sejarah beserta pemandangan alamnya, tentu tempat ini sangat tepat untuk dikunjungi pada hari pertama di tahun baru.

Sumber : yogyes.com

Asal Mula Upacara Bekakak

Upacara Bekakak atau Saparan merupakan upacara adat masyarakat yang hingga kini masih diperingati oleh masyarakat di Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Hanya saja, manusia yang dimaksud dalam upacara ini yaitu tiruan manusia yang berwujud sepasang boneka pengantin dalam posisi duduk bersila, terbuat dari tepung ketan yang berisi cairan gula merah. Disebut Saparan karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Sapar (Syafar), bulan kedua dalam kalender Hijriah (Islam). Menurut cerita, upacara Bekakak bermula dari sebuah musibah yang menimpa dua orang abdi dalem (pegawai keraton) Sultan Hamengkubuwono I. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Upacara Bekakak.

* * * 

Pada 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sebagai raja baru, ia bermaksud mendirikan sebuah istana atau keraton sebagai tempat kediaman. Sembari menunggu pembangunan keraton itu selesai, Sultan memilih untuk berisitrahat di sebuah pesanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang, Sleman. Ketika itu, sebagian besar penduduk Ambarketawang bermata pencaharian sebagai pengumpul batu-batu gamping dari gunung kapur yang ada wilayah itu.

Sri Sultan Hamengkubuwono I tinggal di Ambarketawang bersama sejumlah abdi dalem. Dua abdi yang paling setia adalah sepasang suami istri bernama Kyai dan Nyai Wirasuta. Keduanya adalah abdi dalem penongsong, yaitu abdi dalem yang sehari-harinya bertugas memayungi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ke mana pun sang Raja pergi, keduanya turut serta membawa payung kebesaran keraton.

Selain setia, Kyai dan Nyai Wirasuta termasuk abdi dalem Sri Sultan yang paling rajin. Di sela-sela menjalankan kewajibannya, keduanya memelihara beragam hewan seperti ayam, bebek, burung puyuh, merpati, kelinci, dan landak. Mereka amat menyayangi dan rajin merawat hewan-hewan peliharaan itu.

Hingga pada suatu ketika, datanglah utusan dari keraton hendak menemui Sri Sultan Hamengkubuwono I di tempat peristirahatannya.

“Ampun, Kanjeng Gusti,” lapor utusan itu sambil memberi hormat.

“Bagaimana perkembangan keraton kita?” tanya sang Sultan.

“Pembangunan keraton telah selesai dan siap untuk ditempati,” jawab utusan itu.

“Bagus, kalau begitu, besok pagi-pagi sekali kami akan kembali ke keraton,” kata sang Sultan.

Keesokan harinya, Sri Sultan Hamengkubuwono I beserta para abdi delam bersiap-siap untuk kembali ke keraton. Namun, Kyai Wirasuta dan istrinya masih merasa betah tinggal di Ambarketawang.

“Ampun, Kanjeng Gusti. Bukannya hamba berdua tidak setia kepada Kanjeng Gusti. Izinkanlah hamba berdua tinggal di tempat ini untuk merawat tempat peristirahatan Kanjeng Gusti. Hamba berdua merasa betah tinggal di tempat ini. Lagipula, hewan peliharaan hamba sudah banyak. Sayang sekali kalau ditinggalkan,” pinta Kyai Wirasuta sembari menghaturkan sembah.

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keinginan kalian. Rawatlah baik-baik pesanggrahan ini dan hewan-hewan kalian,” ujar sang Sultan.

“Terima kasih, Kanjeng Gusti,” ucap Ki Wirasuta, “Tapi, jika diperkenankan, bolehkah hamba membawa putra-putri hamba ke tempat ini?”.

Permintaan Kyai Wirasuta pun disetujui oleh sang Sultan. Sejak itulah, Kyai Wirasuta tinggal di daerah itu bersama istri dan dua putra, Raden Bagus Gombak dan Raden Bagus Kuncung serta dua putrinya, Roro Ambarsari dan Roro Ambarsekar. Selain itu, ia juga memboyong kedua pembantu setianya yaitu Kyai dan Nyai Brengkut.

Suatu hari, tepatnya hari Jumat Kliwon di bulan Sapar, Kyai Wirasuta bersama istrinya sedang membersihkan halaman pesanggrahan. Tanpa mereka duga sebelumnya, Gunung Gamping yang berada di dekat pesanggerahan itu runtuh. Karena posisinya berada sangat dekat dengan gunung itu, mereka pun tidak sempat menyelamatkan diri sehingga tertimbun batu-batu kapur. Ketika peristiwa itu terjadi, keempat putra-putri serta kedua pembantunya masih sempat melarikan diri bersama sebagian warga lainnya sehingga selamat dari musibah. Sementara hewan ternaknya hanya ada 3 ekor yang selamat yaitu seekor merpati memakai sawangan, seekor burung puyuh bergelang emas, dan seekor landak berkalung sapu tangan merah.

Mendengar kabar tentang musibah yang menimpa kedua abdi dalem kesayangannya itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I memerintahkan para prajurinya untuk membongkar reruntuhan batu-batu kapur yang ada di Gunung Gamping itu. Namun, hingga batu kapur itu selesai disingkirkan, jasad Kyai Wirasuta dan istrinya tidak diketemukan. Kedua jasad tersebut menghilang tanpa jejak.

Di istana Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono I duduk termenung mengenang kedua abdi dalem-nya itu. Hatinya sangat sedih karena kehilangan orang-orang yang disayanginya. Kesedihan yang dirasakan sang Raja hingga berbulan-bulan lamanya. Ketika kesedihan itu mulai lenyap, sang Raja kembali dikejutkan oleh laporan dari abdi dalem-nya.

“Ampun, Kanjeng Gusti. Hamba baru saja mendapat kabar bahwa beberapa penduduk Ambarketawang tertimbun reruntuhan batu kapur,” lapor abdi dalem itu.

Mendengar laporan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I kembali berduka. Musibah itu kembali mengingatkannya kepada Kyai Wirasuta dan istrinya. Kebetulan, musibah itu juga terjadi pada bulan Sapar. Demikian seterusnya, hampir setiap bulan Sapar, penduduk Ambarketawang kerap mendapat musibah yang serupa. Oleh karena itulah, masyarakat meyakini bahwa meskipun jasadnya telah menghilang, jiwa dan arwah Kyai dan Nyai Wirasuta masih tetap ada di Gunung Gamping. Dengan keyakinan itu, mereka pun menjadi resah. Mereka pun khawatir mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar gunung itu, terutama pada bulan Sapar.

Mengetahui keresahan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I pun bertitah kepada masyarakat Ambarketawang agar setiap bulan Sapar mengadakan upacara selamatan. Upacara itu juga bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar melindungi masayarakat dari musibah. Adapun wujud upacara selamatan itu berupa penyembelihan bekakak yang dilengkapi dengan beberapa perangkat upacara lainnya seperti tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar, dan lain sebagainya. Penyembelihan bekakak dimaksudkan untuk menggantikan Kyai dan Nyai Wirasuta dan warga lain yang tertimpa musibah.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Upacara Bekakak dari Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga kini, upacara Bekakak masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, dan selalu digelar pada hari Jumat, antara tanggal 10 hingga 20 dalam bulan Syafar. Saat ini, upacara Bekakak telah menjadi agenda wisata budaya sehingga pergelarannya selalu dikemas secara atraktif untuk menarik perhatian para wisatawan.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah seorang abdi atau bawahan yang setia pada tuannya akan selalu dikenang jasanya. Demikian yang terjadi pada Kyai dan Nyai Wirasuta. Atas kesetiaan dan pengabdiannya, jasa-jasa mereka terus dikenang hingga saat ini.

Sumber: ceritarakyat.com

Cerita Kali Gajah Wong

Dipinggiran kota Yogyakarta terdapat sebuah sungai yang oleh penduduk sekitar dinamakan kali Gajah Wong, berikut cerita tentang Kali Gajah Wong tersebut.
Dalam kisah disebutkan, Kerajaan Mataram pernah berpusat di Kotagede, kurang lebih 7 kilo­me­ter arah tenggara kota Yogyakarta. Pada waktu itu Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung yang mempunyai beribu-ribu prajurit, termasuk pasukan berkuda dan pasukan gajah. Kanjeng sultan juga mempunyai abdi dalem-abdi dalem yang setia. Di antara abdi dalem itu terdapat seorang srati, bernama Ki Sapa Wira.

Setiap pagi, gajah Sultan yang ber­­­­nama Kyai Dwipangga itu selalu di­mandi­kan oleh Ki Sapa Wira di sungai di dekat Kraton Mataram. Oleh karena itu, gajah dari Negeri Siam itu selalu menurut dan ter­biasa dengan perlakuan lembut Ki Sa­pa Wira. Pada suatu hari, Ki Sapa Wira sakit bisul di ketiaknya sehingga ia tidak bisa bergerak bebas, apalagi harus beker­ja memandikan gajah. Oleh karena itu, Ki Sapa Wira menyuruh adik iparnya yang bernama Ki Kerti Pejok untuk menggantikan pekerjaannya. Sebenarnya, nama asli Ki Kerti Pejok adalah Kertiyuda. Namun ka­re­na terkena penyakit polio sejak lahir sehingga kalau berjalan meliuk-liuk pin­cang atau pejok menurut istilah Jawa, maka ia pun dipanggil Kerti Pejok.

“Tolong gantikan aku memandikan Kyai Dwipangga, Kerti,” kata Ki Sapa Wira.

“Baik, Kang,” jawab Ki Kerti. “Tapi ba­gai­mana jika nanti Kyai Dwipangga tidak mau berendam, Kang?” sambungnya.

“Biasanya aku tepuk kaki belakangnya, lalu aku tarik buntutnya,” jawab Ki Sapa Wira.

Pagi itu Ki Kerti sudah berangkat me­­nuju sungai bersama Ki Dwipangga. Ba­dan gajah itu dua kali lipat badan ker­bau, belalainya panjang, dan gadingnya ber­warna putih mengkilat. Ki Kerti Pejok mem­bawakan dua buah kelapa muda un­tuk makanan Ki Dwipangga agar gajah itu patuh kepadanya.

“Nih, ambillah untuk sarapan …,” cele­tuk Ki Kerti sambil melemparkan sebuah kelapa muda ke arah Ki Dwipangga.

“Prak ….” kelapa itu ditangkap oleh Ki Dwi­­pang­ga dengan belalainya lalu di­banting pada batu besar di pinggir jalan. Dua buah kelapa sudah terbelah, dan Ki Dwipangga memakannya dengan lahap. Belum habis kelapa yang kedua, Ki Kerti sudah menyuruh Ki Dwipangga untuk berdiri dan berjalan lagi. Dipukulnya pantat gajah itu dengan cemeti yang dibawanya.

Setibanya di sungai, Ki Kerti menyu­ruh Ki Dwipangga untuk berendam. Sesaat kemudian, Ki Kerti segera memandikan ga­jah itu. Ia menggosok-gosok tubuh ga­jah tersebut dengan daun kelapa supaya lumpur-lumpur yang melekat cepat hilang. Setelah bersih, gajah itu segera dibawa pulang oleh Ki Kerti menuju kandangnya.

“Kang, gajahnya sudah saya mandi­kan sampai bersih,” lapor Ki Kerti kepada Ki Sapa Wira.

“Ya, terima kasih. Aku harap besok pa­gi kamu pergi memandikan Ki Dwi­pang­ga lagi. Setiap hari gajah itu harus dimandikan, apalagi pada saat musim kawin begini,” jawab Ki Sapa Wira sambil menghisap ce­rutunya.

Keesokan harinya, pagi-pagi Ki Kerti mendatangi rumah Ki Sapa Wira un­­tuk men­­jemput Ki Dwipangga. Pagi itu langit kelihatan mendung, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Segera Ki Kerti Pe­jok membawa Ki Dwipangga menuju su­ngai. Kali ini Ki Kerti Pejok agak kecewa ka­re­na sungai tempat memandikan gajah tersebut ke­li­hat­an dangkal. ‘Mana mungkin dapat memandi­kan gajah jika untuk berendam pun tidak bisa,’ pikir Ki Kerti Pejok. Kemudian ia mem­bawa Ki Dwipangga ke arah hilir untuk mencari genangan sungai yang dalam.

“Ah, di sini kelihatannya lebih dalam. Aku akan memandikan Ki Dwipangga di sini saja. Dasar, Kanjeng Sultan orang yang aneh. Sungai sekecil ini kok digunakan un­tuk memandikan gajah,” gerutu Ki Kerti Pe­jok sambil terus menggosok punggung Ki Dwipangga. Belum habis Ki Kerti Pejok meng­­gerutu, tiba-tiba banjir bandang da­tang dari arah hulu.

“Hap … Hap … Tulung … Tuluuung …,” teriak Ki Kerti Pejok sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia hanyut dan teng­gelam bersama Ki Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Keduanya pun mati kare­na tidak ada seorang pun yang dapat me­nolongnya.

Untuk mengingat peristiwa tersebut, Sultan Agung menamakan sungai itu Kali Gajah Wong, karena kali itu telah meng­hanyutkan gajah dan wong. Sungai itu terletak di sebelah timur kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah itu saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembiraloka.

Kanjeng : tuan.

Abdi dalem : pegawai istana, pembantu raja.

Srati : orang yang pekerjaannya mengurusi gajah.

Kang : kak, kakak, panggilan untuk kakak laki-laki.

Buntut : ekor.

Tulung : tolong.

Kali : sungai.

Wong : orang.

Penulis: Henry Artiawan Yudhistira
Sumber :  ceritarakyat.com 

Perda Bantul akan Bedakan Toko Modern, UMKM, dan Koperasi

BANTUL - Dalam Perubahan Perda No 16 tahun 2011 tentang Pengaturan Toko Modern dan Pasar Tradisional di Kabupaten Bantul, bakal dicantumkan definisi mengenai toko modern. Dengan demikian, persoalan yang sempat menimbulkan polemik dapat dipahami bersama.

"Di luar UMKM dan koperasi, namanya toko modern," ujar Wakil Ketua Pansus DPRD Bantul, Yudha, Kamis (18/10/2012).

Belakangan ini, lanjutnya, di Kabupaten Bantul telah menjamur toko yang memiliki desain mirip toko modern. Padahal, penggunaan modalnya terbatas, sehingga ketentuannya tidak bisa disamakan dengan toko modern.

"Parameternya menggunakan besaran modal yang digunakan. Apabila modal di atas Rp 500 juta, masuk kategori toko modern. Sementara jika modal di bawah angka itu, masuknya UMKM," paparnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Komisariat Pasar Piyungan, Soekarno, mengaku sedikit lega. Sebab, harapan pedagang mengenai adanya peraturan jam buka toko modern segera terealisasi.

"Kami sedikit lega, toko modern di dekat pasar Piyungan yang kemarin buka, akhirnya sudah tutup. Harapannya, toko modern lain yang melanggar perda segera ditindak," tukasnya. (jogja.tribunnews.com)

Pesta Rakyat Keistimewaan Digelar di DPRD

JOGJA - Dinas Kebudayaan bekerjasama DPRD DIY menggelar panggung kesenian tradisional dalam rangka syukuran keistimewaan. Kegiatan berlangsung pada 18-19 Oktober 2012 di kantor DPRD DIY.

Pentas akbar nonstop dua hari ini, diikuti 30 kelompok seni tradisi dipentaskan secara terbuka, gratis agar bisa dinikmati masyarakat luas. Mulai dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB.

Beberapa kelompok seni yang akan tampil adalah reyog gedrug-reyog mataram-reyog wayang, jathilan putra maupun putri, angguk, tayub, incling, gejog lesung, kethek ogleng, nasyid, hadroh, keroncong dan thekthek.

Ada juga kesenian, rampang gendang, brambangan, penampiilan kolosal sendratari sumbangan kabupaten kediri, dan puncaknya Jumat malam pukul 20.00 WIB ketoprak istimewa berjudul Sumilaking Pedhut di Bumi Perdiikan yang diperankan seniman dan anggota DPRD DIY. Seniman antara lain Den Baguse Ngarsa, Yu beruk dan elemen masyarakat dengan sutradara kondang Nano Asmorodono. (harianjogja.com)

Kulonprogo Jembatan Emas Perekonomian DIY

KULONPROGO - Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan, Kulonprogo merupakan jembatan emas dalam menuju ekonomi DIY yang baru. Untuk itu pemerintah daerah akan mendorong supaya pelaksanaan megaproyek bandara internasional, pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, penambangan pasir besi, industri baja serta meningkatkan investasi.

"Megaproyek merupakan jembatan emas untuk menuju perekonomian DIY yang maju dan sejahtera. Untuk itu kami (pemkab Kulonprogo) akan mendorong supaya program itu segera terlaksana," katanya, Senin (15/10/2012).

Pembangunan yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten, kata Hasto, dilaksanakan dengan landasan semangat gotong royong. Pemkab sudah berhasil melaksanakan program bedah rumah sebanyak 166 unit dengan anggaran 1,6 milyar. Semuanya berasal dari luar APBD.

Hasto menambahkan, untuk meningkatkan kesejahteraan, pemkab juga mengharapkan masyarakat untuk menggunakan produk-produk lokal. Dengan membeli dan menggunakan produk buatan lokal, maka akan membantu meningkatkan perputaran uang di daerah sehingga masyarakat menjadi lebih sejahtera. (jogja.tribunnews.com)

Tanggapan Haryadi Suyuti tentang Video "Ora Masalah Har!"

YOGYA – Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menanggapi bahwa konten video "Ora Masalah Har!" Yang beredar di You Tube sejak 5 Oktober 2012 ini harus diluruskan. Menurutnya, ada kesalahpahaman beberapa pihak dalam mengartikan Surat Edaran Nomor 645 /57/SE/2012 mengenai Parkir di Kompleks Balai Kota Yogyakarta menjadi pelarangan Segosegawe.

“Saya cukup terganggu dengan persepsi di video 'Ora Masalah Har!' Memang kreatif, tapi kontennya kurang tepat. Saya tidak pernah menyinggung soal pelarangan program Segosegawe (Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe) setiap hari Jumat di Balai Kota Yogyakarta, bahkan saya dulu juga penggagas Segosegawe,” katanya, Senin (15/10/2012).

Menurut Haryadi, Surat Edaran Nomor 645 /57/SE/2012 dibuat lantaran belakangan ini justru terjadi dampak negatif atas program car free day di balai kota setiap Jumat, berupa penumpukan parkir di jalanan depan balai kota.

“Minat para pegawai Pemkot Yogyakarta untuk bersepeda setiap Jumat mulai berkurang, dan memilih menggunakan sepeda motor kembali menyebabkan penumpukan parkir,” terangnya.

Penumpukan parkir ini dinilai cukup mengganggu lalu lintas di perlintasan jalan sekitar Balai Kota Yogyakarta. Selain itu, masyarakat yang sebelumnya bisa memarkirkan kendaraannya gratis di balai kota, kini terpaksa harus membayar ongkos parkir setiap membutuhkan pelayanan di Balaikota. Sehingga justru menghambat akses masyarakat ke Balaikota sebagai pusat pelayanan masyarakat.

Karenanya, muncul Surat Edaran Nomor 645 /57/SE/2012 yang menyebutkan bahwa pertanggal 7 September 2012, pada hari Jumat, semua kendaraan pegawai dan tamu roda empat maupun roda dua diijinkan masuk ke lingkungan kompleks Balaikota Yogyakarta. “Saya tidak melarang Segosegawe,” ulangnya.

Haryadi menambahkan, masyarakat perlu memahami konsep Segosegawe yang sebenarnya. Sesuai namanya, program Segosegawe ini berdasar pada konsep bike to work dan bike to school. “Ini berbeda dengan fun bike yang digelar di luar jam kerja ataupun jam sekolah,” ucap Haryadi.

Ditegaskannya, bahwa ia tetap mendukung program Segosegawe namun dengan realisasi yang berbeda. Ketimbang memaksakan pelaksanaan car free day di area perkantoran pemerintah, Haryadi lebih memilih untuk menciptakan jalur-jalur alternatif bagi pesepeda di Yogyakarta.

Berdasarkan pengamatannya selama ini, jalanan di Yogyakarta masih kurang mendukung bagi para pesepeda, mulai dari kerusakan di beberapa ruas jalan alternatif ataupun kondisi pesepeda yang harus berbagi jalur di jalan raya.

”Kalau jalannya jelek siapa yang mau bersepeda? Apalagi kalau harus bersepeda di jalan besar kan berbahaya,” ucap Haryadi.

Selain itu, sebagai bukti bahwa ia tidak melarang Segosegawe, Haryadi kini tengah menyiapkan area parkir sepeda di seputaran air mancur Balaikota. Area tersebut akan dilengkapi dengan tempat khusus parker sepeda berupa palang-palang besi sehingga warga bisa memarkirkan sepedanya dengan aman. (jogja.tribunnews.com)

Cara Menyembuhan Orang yang Terkena Ilmu Sihir

BANTUL- Supiati (25), pasien Rumah Sakir Nur Hidayah, Kabupaten Bantul, DIY, diduga terkena ilmu sihir. Pasalnya, hampir seluruh tubuhnya tertanam ratusan benda asing seperti paku, kawat, jarum, dan rambut. Ketua Tim Medis RS Nur Hidayah, Bantul, Yogyakarta yang menangani Supiati, dr Sagiran, menjelaskan dalam melakukan penyembuhan terhadap orang yang terkena ilmu sihir harus memercayai adanya hal gaib.

"Mempercayai hal-hal yang gaib itu merupakan bagian dari keimanan seorang beriman. Setelah percaya, harus ada sikap, dan sikap itu harus benar. Kalau engak percaya, engak ada sikap," ulas dr Sagiran, Jumat (12/10/2012).

Makanya, lanjut dia, harus percaya dan dilanjutkan membentengi diri dengan amal-amal yang bisa memperkuat keimanan.

"Kami minta kepada masyarakat yang terkena gangguan semacam sihir untuk percaya. Kami meyakini bahwa Allah sudah memberi tuntunan, Nabi Muhammad sudah mencontohkan jangan sampai mengunakan cara-cara kecuali yang dibenarkan oleh syariat agama," ulasnya.

Sagiran khawatir, jika dilakukan dengan cara-cara tidak seusai dengan ajaran agama penyakit tersebut tidak akan sembuh.

"Sifat dendam itu harus dihilangkan. Kalau masih dendam dan ingin membalas, mungkin akan muncul istilah keluar dari mulut buaya masuk mulut singa, dan seterusnya. Itu tidak menyelesaikan permasalahan," tuturnya.

Pria yang akrab di sapa Abah itu menyampaikan, jangan sampai ilmu sihir itu di lawan dengan ilmu serupa yang lebih tinggi. Dia menilai anggapan harus perlawanan itu keliru.

"Nabi (Muhammad) tidak mengajarkan seperti itu. Kalau anggapan harus dilawan dengan ilmu yang lebih tinggi itu engak pernah akan berakhir, tetapi kalau kita kembalikan kepada Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, kita harus pasrah, engak usah dendam, enggak usah mencurigai, dan enggak usah takut. Bahkan, heran pun tidak usah, kita anggap biasa saja," tandasnya. (jogja.okezone.com)

TAMAN SARI Istana Air Penuh Keindahan dan Rahasia

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

"Dari atas Gapura Panggung ini Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana. Bangunan-bangunan di sampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka," terang seorang pemandu ketika YogYES memasuki Taman Sari. Dari Gapura Panggung, pemandu membawa YogYES masuk ke area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika YogYES memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen yang menghiasi periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak di samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk dan kamar pribadi Sultan, di menara yang terdiri dari tiga tingkat ini ada tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun yang melihatnya. Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari dari kolam di bawahnya dan seluruh area Taman Sari terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan dari atas sini, pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatannya dan bunga-bunga yang semerbak mewangi.

Selepas menikmati pemandangan dari atas menara, pemandu lalu membawa YogYES menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap dan hening langsung terasa ketika YogYES masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi dan strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.

YogYES pun berpisah dengan pemandu di depan Gapura Agung. Namun, ini bukan berarti perjalanan terhenti karena masih ada beberapa tempat yang harus disinggahi seperti Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, Anda harus melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting. Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar dari Tajug, Anda akan melihat bekas dari Pulo Kenongo yang dulunya banyak ditumbuhi bunga kenanga yang menyedapkan Taman Sari. YogYES pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauh dari kita terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Sesampainya di tengah masjid yang berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung yang terdengar dari permukiman penduduk di area Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset yang mempesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Puas dengan kesegaran air dari Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan yang indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air yang apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China menjadi nilai yang membuat Taman Sari tak akan terlupakan.

Jam Buka: Senin - Minggu, pukul 09.00 - 15.30 WIB
Tiket:
  • Wisatawan Domestik: Rp 3.000
  • Wisatawan Mancanegara: Rp 7.000
  • Guide: nego (Rp 10.000 - Rp 20.000)
Keterangan:
harga tiket diperoleh pada perjalanan bulan Januari 2012. Untuk tarif pemandu bervariasi, tergantung kesepakatan bersama.


Sumber: Yogyes.com

SBY: DIY Bagian Penting RI


JOGJA—Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa DIY merupakan bagian penting dari Indonesia. Saat ini sudah memiliki UU 13/2012 tentang Keistimewaan DIY sebagai pengakuan atas status Keistimewaan Jogja secara lebih jelas dan lebih formal.

“Dengan berlandaskan adat, pengakuan hak asal usul kerakyatan, demokrasi, kebhineka tunggalikaan, efektifitas pemerintahan, kepentingan nasional dan pendayagunaan kearifan lokal, UU itu memberi kewenangan istimewa pada tata cara pengisian jabatan, kedudukan serta tugas, dan wewenang gubernur dan wagub,” kata SBY dalam sambutan pelantikan di Gedung Agung, Rabu (10/10/2012).

UU itu juga memerikan keistimewan pada penataan kelembagaan pemerintah DIY, pengembangan kebudayana, pegaturan pertanjahan serta tata ruang dan dana keistimewaan.

UU nomor 13 ini bentuk pengakuan sekaligus penghormatan negara atas satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan bersifat istimewa. Negara mengakui keistimewaan Jogja sebagai suatu pemerintaha daerah yang berbeda dengan daerah provinsi lainnya.

UU ini juga instrumen Yuridis demi berjalannya pemerintahan DIY, yang demokratis dan terwujudnya kesejahteraan dan ketentraman masyarakat. “Bersamaan dengan itu ingin saya tegaskan bahwa Jogjakarta adalah bagian utama dari negarakesatuan republik Indonesia, Jogja juga jadi bagian penting dari demokratisasi dan tranformasi kehidupan bangsa yang kita lakukan belakangan ini,” jelas SBY. (harianjogja.com)

Ini Kali Pertama Presiden Lantik Gubernur

YOGYA - Untuk kali pertama ini, presiden melantik seorang gubernur. Presiden SBY, Rabu (10/10/2012) pagi, melantik Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur DIY di Gedung Agung Yogyakarta.

Kebijakan ini sesuai Undang-Undang 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY.

"Pelantikan ini menjadi yang kali pertama bagi Presiden. Undang-Undangnya memang demikian," terang Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi, di Gedung Agung Yogyakarta, Rabu (10/10/2012).

Ia menambahkan, untuk gubernur dan wakil gubernur lainnya, yang melantik adalah Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden.

Dalam agenda tersebut dibacakan Keputusan Presiden Nomor 87/P/2012 tertanggal 3 Oktober 2012 tentang Pengangkatan Kepala Daerah DIY periode 2012-2017.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X resmi menjadi kepala daerah setelah Presiden melantik di Gedung Agung. Prosesi pelantikan berlangsung sekitar 30 menit.

Dimulai pukul 08.55 WIB dengan menyanyikan lagu kebangsaan, dilanjutkan pembacaan surat keputusan presiden soal penetapan. Prosesi pelantikan dan sambutan.

Pukul 09.25 pelantikan selesai dilanjutkan dengan ucapan selamat dari presiden dan ibu presiden Anny Yudhoyono. (jogja.tribunnews.com dan harianjogja.com)

Pohon Pisang Aneh

BANTUL - Marsudi Utomo (60) dan Suaminya Mbah Alip (60) sepasang suami istri ini tak menyangka, dua pohon pisang yang ditanam di depan warung kecil miliknya berbuah lebih dari satu tundun dalam satu pohon. 

"Ketahuannya setelah tuntut (bakal buah pisang - Red) berubah menjadi pisang, kok ada dua tundun, satunya lagi malah tiga tundun," ujarnya saat ditemui Tribun Jogja di warungnya, Senin (8/10/2012). 

Marsudi mengaku, lantaran unik, sudah ada yang menawar tunas yang tumbuh di sebelahnya untuk dibeli. " Ada yang mau beli tunasnya Rp 25 ribu, tapi saya ngga mau. Kalau tunasnya diambil sementara pisang belum masak, maka nanti hasilnya akan jelek," paparnya. 

Sementara dua pohon pisang yang unik ini, masing-masing baru berumur dua bulan. "Untuk sampai masak di pohon kira-kira nanti umur empat bulan," jelasnya. 

Rencananya ia akan menjualnya bila kelak ada yang berminat, untuk sementara ia biarkan tumbuh sambil menunggu masak secara alami, hanya saja harus ditopang agar beban buah tidak membuat pohon roboh. 

Pohon pisang unik jenis Ambon ini, tepatnya terletak di Dusun Nggenen Tegallurung, Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul. Menurut Marsudi, pohon ini hasil tunas yang kedua, sedangkan tunas pertama saat berbuah tidak menunjukkan keanehan. "Tunas pertama berbuah seperti biasa, sama dengan pisang lain," ungkapnya. 

Beberapa warga sekitar yang mengetahui berita ini, segera berkerumun untuk menyaksikan keanehan pohon pisang yang terkenal sebagai makanan monyet ini. 

Salah satunya adalah Indrasih (27) warga Bambanglipuro ini tertarik ingin menyaksikan uniknya pohon pisang ini. "Dengar dari teman, terus penasaran akhirnya ketemu juga disini, unik saja, jarang ada pohon pisang berbuah banyak," ungkapnya usai menyaksikan sendiri pohon tersebut, Senin (8/10/2012).(Jogja.tribunnews.com)

Polemik Paku Alaman mencuat kembali

Jogja - Polemik internal Pura Paku Alaman mencuat kembali dengan rencana pengajuan gugatan ke PTUN dan MK oleh kubu KPH Anglingkusumo menyikapi keputusan DPRD DIY Nomor 44 Tahun 2012 yang dinilai cacat hukum.

"Keputusan tentang Gubernur dan Wakil Gubernur DIY itu cacat hukum sehingga kami akan mengajukan gugatan ke PTUN dan MK. Langkah kami ini merupakan upaya menegakkan UU Keistimewaan Yogyakarta," kata Kuasa Hukum KPH Anglingkusumo di Ryo Ramabaskara di Yogyakarta, Selasa.

Dalam keputusannya, DPRD DIY menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan KGPAA Paku Alam (PA) IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.

Menurut dia, keputusan DPRD tersebut batal demi hukum karena tidak sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY karena menetapkan KPH Ambar Kusumo sebagai Wakil Gubernur DIY dan bukan KPH Anglingkusumo yang seharusnya berhak atas tahta sebagai Paku Alam.

Kata "yang bertahta" dalam menetapkan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY seperti yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keistimewaan, lanjut dia, telah disalahartikan oleh DPRD DIY.

"Mereka menggunakan pendekatan lain untuk menentukan siapa yang akan menjabat Wakil Gubernur DIY," katanya.

Sementara itu, adik KPH Anglingkusumo, KGPH Widjojokusumo mengatakan, draf gugatan tersebut masih disusun, namun segera diserahkan ke PTUN dan MK dalam waktu dekat.

Sebenarnya KGPH Widjojokusumo sebagai Penghageng Kawedanan Kasentanan Pura Pakualaman versi KPH Anglingkusumo, berniat menggelar pertemuan di Gedong Purworetno Komplek Pura Paku Alaman terkait rencana penyampaian gugatan ke PTUN dan MK.

Namun, rencana tersebut gagal karena KGPH Widjojokusumo tertahan di depan gerbang Pura Paku Alaman. Ia sempat melakukan aksi dorong mendorong dengan Kelompok Paksi Katon yang berjaga di dalam pura sebelum akhirnya harus menyampaikan pendapatnya di depan gerbang Pura Paku Alaman.

Ketua Kelompok Paksi Katon Muhamad Suhud mengatakan, bahwa mereka menjalankan tugas untuk mengamankan aset budaya, termasuk Pura Paku Alaman.

Ia mengatakan, pengamanan tersebut dilakukan berdasarkan Surat Edaran Nomor 596/05/IX/12/WS dari Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipaten Pura Paku Alaman Ngayogyakarta.

"Dalam surat edaran itu dinyatakan, bahwa pemanfaatan aset milik Keprabon Kadipaten Paku Alaman harus atas izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Kasentanan Kadipatan Pakualaman, yaitu KPH Tjondrokusumo. Jika tidak ada izin, maka siapapun tidak diperbolehkan menggunakan aset yang ada," katanya.

Suhud menyayangkan sikap KGPH Widjojokusumo yang tidak mengajukan izin ke KPH Tjondrokusumo untuk pemanfaatan Gedong Purworetno.

"Jika ada itikad baik, tentunya akan diizinkan," katanya.

Ia mengatakan, penjagaan di Pura Paku Alaman tersebut akan dilakukan hingga proses pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY selesai dilangsungkan.

(jogja.antaranews.com)
 
jos